Popular Posts

Berita Terbaru

Senin, 19 Juli 2010

Petani Kebingungan Membaca Perubahan Cuaca

Sejumlah petani di Kecamatan Banjarejo dan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kebingungan membaca perubahan cuaca pada awal musim tanam pertama kemarin. Hal itu mengakibatkan sejumlah petani menanam lebih awal meskipun curah hujan belum maksimal.

Rata-rata petani di dua kecamatan itu menanam padi pada November 2008. Padahal menurut perhitungan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jateng, curah hujan tertinggi di Jateng bagian timur, termasuk Blora, terjadi pada pertengahan Desember.

Petani Desa Kalirejo, Kecamatan Banjarejo, Sarji (48), Jumat (13/2) di Blora, mengaku menyebar benih padi pada November 2008 lantaran hujan sudah turun. Namun, hujan tidak kunjung datang hingga benih berumur 25 hari atau siap tanam.

"Warna daun benih padi menguning lantaran kekurangan air. Sebagian benih itu tidak dapat ditanam lagi meskipun masih hidup. Kalaupun ditanam, bulir padi tidak akan berisi," kata Sarji yang pada 2007 menanam padi pada bulan Desember.

Menurut pemilik sawah seluas setengah hektar itu, sebagian besar padi yang kekurangan air itu tetap ditanam karena pada awal Desember hujan kembali turun. Namun setelah dipanen, produktivitas padi turun dari tiga ton menjadi satu ton.

"Selain semula kekurangan air, padi itu terserang penyakit dan kekurangan pupuk. Ketika dijual, harga gabah kering panennya sangat rendah, Rp 1.800 per kilogram," kata Sarji.

Ketua Kelompok Tani Sido Muncul, Dukuh Klarean, Desa Bakah, Kecamatan Kunduran, Sholikin (36), mengemukakan sebagian besar padi di Dukuh Klarean semula kekurangan air. Pasalnya, para petani menanam benih padi itu selang beberapa hari hujan pertama turun.

"Setelah ditanam, daya tahan padi lemah, sehingga ketika berumur antara 40 hari 60 hari, padi terserang penyakit. Akibatnya, padi seluas tujuh hektar puso atau gagal dipanen," kata dia.

Aplikator Nordox sekaligus pendamping petani Rahmat Zulkarnaen mengatakan perubahan cuaca akibat pemanasan global memengaruhi pertanian. Petani kesulitan menentukan masa tanam yang tepat dan aneka macam hama dan penyakit merebak.

Di Kabupaten Blora, perubahan cuaca mengakibatkan kelembapan di lahan pertanian berubah-ubah. Ketika kelembapan tinggi, penyakit kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzaedan blas yang disebabkan jamur Pyricularia oryzae, muncul.

"Petani sebagai pelaku utama harus tahu dan lebih teliti terhadap kondisi lahan dan tanaman. Hal itu perlu diimbangi dengan gerakan pemerintah daerah untuk kembali menggairahkan sekolah-sekolah lapang di semua wilayah," kata Rahmat.


SUMBER : ROTANINDONESIA

0 comments:

Poskan Komentar

Berita Online

Portal Blora @2010. Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2009 | Nurse | supported by XXX