Popular Posts

Berita Terbaru

Minggu, 25 Juli 2010

Jati Denok Monumen Hidup Blora

Pohon jati denok di Dukuh Temanjang, Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupeten Blora, Jawa Tengah, yang berusia 350 tahun saat ini menjadi monumen hidup. Pemantauan langsung pohon jati denok di lokasi, Jumat, menunjukkan bahwa pohon ini memang memiliki keunggulan spektakuler dibandingkan dengan jati lain yang ada di hutan.

Ukuran keliling bagian bawah pohon saja lebih dari delapan meter, sedangkan ketinggiannya menjulang lebih dari 30 meter. Jadi keberadaan jati denok di hutan ini seperti pohon raksasa di antara ribuan jati lainnya.

Sebagai perbandingan, rata-rata keliling bawah pohon jati yang ada sekarang tidak lebih dari 3,5 meter dengan ketinggian kurang dari 20 meter. Bila menyimak ukurannya, volume jati denok tentu bisa mencapai puluhan meter kubik
Menurut keterangan yang dikumpulkan di lapangan, pohon jati spektakuler sebesar dan setinggi jati denok dulu sebenarnya lebih dari satu, namun ada yang menebang. Kini hanya tersisa satu.

"Saya sudah beberapa kali meninjau langsung, tidak keliru kalau itu dikatakan sebagai jati monumental. Ukuran keliling bawahnya mencapai 839 sentimeter dengan ketinggian sekitar 36 meter. Sungguh luar biasa," kata Bupati Blora, Yudi Sancoyo.

"Biarkan jati denok berada pada posisinya sebagai bukti bahwa Blora pernah mengalami kejayaan hutan jati sekaligus sebagai saksi sejarah kualitas terbaik kayu jati Blora," katanya.

Karena ukurannya yang luar biasa besar, maka warga setempat malah memperlakukan pohon ini begitu istimewa, bahkan dianggap memiliki nilai magis dan menjadi koloni makhluk halus.


Magis

Oleh karena itu tidak mengherankan, pada waktu-waktu tertentu di sekitar pohon ini sering terlihat ada sesaji.

Widodo, perangkat desa setempat, menyatakan BAHWA jati denok memang mempunyai nilai magis dan diduga dihuni makhluk halus. Kepercayaan seperti ini justru memberi keuntungan, sebab dengan demikian orang tidak berani menebangnya.

"Para warga memang tidak berani berbuat macam-macam terhadap pohon jati tersebut, bahkan ada warga yang sering membuat sesaji," kata Widodo.

Tidak banyak warga yang mengetahui bahwa usia pohon jati denok itu sudah melampaui tiga abad. Kisah yang berkembang justru menciptakan legenda jati denok.

Inilah legenda yang hidup di masyarakat sekitar pohon jati denok kokoh, besar, dan menjulang tinggi. Alkisah seorang punggawa Keraton Begede Katong bermaksud melamar seorang putri di daerah Gumeng, daerah yang tidak jauh dari keberadaan pohon jati.

Entah apa penyebabnya, lamaran punggawa keraton ditolak. Dalam perjalanan pulang ke Keraton Begede, sang punggawa istirahat di bawah pohon jati berukuran besar.

Saat rehat, punggawa yang baru kasmaran itu membayangkan kecantikan dan kemolekan Putri Gumeng. Dalam bahasa Jawa diceritakan kecantikan Putri Gumeng itu dengan sebutan "Denok Deblong".

Masih dalam legenda itu, punggawa Keraton Begede memang terhanyut dalam lamunan, membayangkan bisa bersanding dengan Putri Gumeng. Setelah menikmati lelap tidur berhiaskan mimpi indah, punggawa itu terbangun.

Beberapa saat setelah bangun tidurnya, punggawa sadar bahwa semua keindahan bersama Putri Gumeng yang molek itu hanya mimpi.

Untuk mengenang cinta tak sampai itu, punggawa lantas memberi nama Denok untuk pohon jati.

Legenda punggawa dan Putri Gumeng hingga sekarang masih tetap hidup, namun ada pertanyaan warga sekitar yang hingga hari ini belum terjawab. Apakah jati Denok itu dulunya sengaja ditanam atau tumbuh sendiri.

Bagi Judi Sancoyo, ditanam atau tumbuh sendiri bukan pertanyaan yang harus segera dicarikan jawaban karena ada satu hal yang lebih penting, yakni bagaimana melestarikan jati Denok itu agar tidak dijarah orang jahat.

0 comments:

Poskan Komentar

Berita Online

Portal Blora @2010. Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2009 | Nurse | supported by XXX