Popular Posts

Berita Terbaru

Senin, 19 Juli 2010

Dishut Blora Targetkan Hutan Lestari Pada 2010

Dinas Kehutanan Blora, Jawa Tengah, menargetkan pada tahun ini hutan rakyat di daerah setempat menjadi hutan lestari.

Untuk mewujudkan itu, dinas tersebut terus melakukan sosialisasi dan pendataan hutan rakyat yang ada.

"Sosialisasi dan pendataan, terus kami lakukan, baik di ruang pertemuan Pemerintah Kabupaten Blora maupun langsung di lapangan," kata Kepala Bidang Pelayanan dan Informasi Dishut Blora, Puji Setiyono, di Blora, Minggu.

Dia mengatakan, untuk pengembangan dan pelestarian hutan rakyat menjadi hutan lestari itu, pihaknya menjalin kerja sama dengan dengan berbagai pihak, seperti Perum Perhutani setempat.

"Kami juga menjalin kerja sama dengan Perhutani di sejumlah KPH yang mempunyai wilayah hutan di Blora guna mewujudkan hutan lestari 2010 ini," katanya.

Saat ini, kata dia, berdasarkan data yang ada, luas lahan kritis, agak kritis dan potensial kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Blora mencapai 16.225 hektare. Dalam jangka waktu relatif singkat lahan tersebut akan dihijaukan melalui program pengembangan hutan rakyat.

"Kami optimistis program ini dapat dilaksanakan dengan baik. Sebab mendapatkan dukungan penuh dari warga," tambahnya.

Menurut dia, warga terlibat penuh dalam pelaksanaan pengembangan hutan rakyat tersebut, sehingga lahan kritis yang luasnya mencapai ribuan hektare akan dapat dihijaukan kembali dalam jangka waktu tidak lama.

"Usaha dan keberhasilan itu, sudah dibuktikan dengan pengakuan dari pemerintah bahwa pengembangan hutan rakyat di Blora sangat baik. Indikasinya, Blora telah menerima penghargaan dari menteri kehutanan," katanya.

Sebagai bahan perbandingan, kata dia, luas lahan kritis, agak kritis dan potensial kritis yang telah dapat dipulihkan melalui program pengembangan hutan rakyat mencapai 16.225 hektare. Pemulihan itu berlangsung sejak 1990-an.

Saat ini, katanya, warga makin menyadari bahwa jika kerusakan hutan dan lahan dapat mengakibatkan munculnya berbagai bencana alam, seperti banjir, tanah longsor dan angin puting beliung dan kekeringan.

Pemkab, lanjutnya, juga memfasilitasi pemberian bantuan bibit jati yang akan ditanam di lahan-lahan yang hendak dipulihkan tersebut.

"Mereka baru boleh memanen pohon jati itu ketika berumur 10 tahun. Ketika pohon ditebang maka harus diganti dengan penanaman pohon baru, minimal tiga," katanya.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan, luas hutan rakyat terus bertambah. Pada 2007, luasnya mencapai 12.286 hektare, setahun kemudian meningkat menjadi 14.250 hektare, dan pada 2009 meningkat lagi menjadi 16,225 hektare.

"Pengembangan hutan rakyat yang manfaatnya dirasakan masyarakat, salah satunya ada di Desa Bradag, Kecamatan Ngawen. Selama beberapa tahun melaksanakan pengembangan hutan rakyat, nominal uang yang diperoleh dari hasil panen hutan rakyat mencapai lebih dari Rp2,6 miliar lebih," katanya.

Sebanyak 80 petani di desa itu, katanya, mengembangkan hutan rakyat. Mereka menanam bibit-bibit jati antara 5-10 tahun lalu di lahan-lahan kritis.

"Luasnya mencapai 75,25 hektare dengan pohon jati sejumlah 44.38 batang. Hutan rakyat itu mengurangi luasan hutan kritis dari 180 hektare menjadi 104,75 hektare, " katanya.

Hal yang sama juga ada di Desa Plantungan Kecamatan Blora. Bahkan, di desa itu dan sekitar, sedang dilakukan pendataan, guna membentuk satu unit hutan rakyat yang luasnya sekitar 800 hektare lebih, untuk diajukan sertifikasi.

"Saat ini, dibantu perangkat desa kami lakukan pendataan untuk desa Plantungan, untuk proses pengajuan sertifikasi hutan standar," katanya.

SUMBER : ANTARA

0 comments:

Poskan Komentar

Berita Online

Portal Blora @2010. Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2009 | Nurse | supported by XXX