Popular Posts

Berita Terbaru

Senin, 19 Juli 2010

Harga naik, daya beli anjlok, biaya pendidikan tinggi

CEPU - Masyarakat Cepu yang dulu dikenal sangat konsumtif, akhir-akhir ini terlihat lebih anteng, para ibu rupanya sudah mulai berhitung dalam membelanjakan uangnya. Tingginya harga barang konsumsi dibarengi saat kenaikan kelas dan mencari sekolah baru, menjadi salah satu penyebab para ibu menghemat pengeluarannya.
“Naiknya harga barang-barang konsumsi akhir-akhir ini sangat drastis, saya biasanya bisa membeli ikan atau ayam untuk lauk, sekarang cuma cukup untuk beli telor bahkan kadang hanya berlauk tempe saja,” keluh Ana (36) seorang ibu dengan dua anak yang salah seorang masuk SD.

Keluhan yang tak jauh beda muncul dari mulut para pedagang yang mangkal di sekitar Kebun Kelapa. “Saya jual bawang sekilo dua puluh ribu, tetapi ketika kulakan harganya sudah dua puluh lima ribu begitupun dengan cabe dan telor. Rasanya kita kerja tidak ada hasilnya karena uang hasil dagangan tidak cukup untuk kulakan lagi,” keluh Rohmah (39).

Wartawan Koran inipun sempat geleng-geleng kepala karena semula jika berbelanja seratus ribu rupiah sudah mendapat berbagai macam barang, dengan kenaikan harga-harga uang seratus ribu hanya mendapat bebrapa barang saja dan jumlahnyapun berkurang. Kenaikan ini belum diperparah oleh kenaikan listrik yang dimulai tanggal 1 Juli. Kenaikan listrik ini akan lebih memacu harga barang semakin melejit.
Keadaan ekonomi yang semakin sulit, pendapatan tidak bertambah sementara pengeluran terus meningkat membuat daya beli masyarakat Cepu benar-benar anjlok. Meskipun penghematan sudah sangat ketat namun tetap saja banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi karena tidak lagi terjangkau. Keadaan lebih parah lagi bagi keluarga yang memiliki anak sekolah karena biaya pendidikan juga sangat tinggi.
Bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah favorit harus rela merogoh kocek lebih dalam, bagi yang tidak punya persediaan harus rela berhutang atau menggadaikan barang-darang miliknya.

“Saya harus mencari pinjaman karena uang saya tidak cukup untuk memasukkan anak saya ke STM Migas,” kata Tutik (44). Biaya masuk sekolah favorit apalagi yang akan berstatus internasional sangat tinggi. Tidak hanya itu, bagi siswa yang naik kelas pun dikenai uang daftar ulang yang cukup lumayan. Misalnya daftar ulang di STM Migas antara 1.350.000 hingga hampir tiga juta rupiah, sedangkan di SMU favorit hampir setengah juta rupiah. Sedangkan biaya pemasukan siswa baru jauh lebih tinggi, misalnya untuk beberapa jurusan di STM Migas mencapai 5,5 juta, untuk sekolah umum lebih rendah namun tetap saja mahal terutama pada situasi krisis seperti sekarang


SUMBER : SR BLORA

0 comments:

Poskan Komentar

Berita Online

Portal Blora @2010. Diberdayakan oleh Blogger.
Copyright 2009 | Nurse | supported by XXX